Suara Hati

Di dalam hati, dengan tiada terlawan, manusia berhadapan dan bersoal jawab dengan dirinya sendiri, dan ia menjadi pembuat peraturan, hakim dan pembalas terhadap perbuatannya sendiri. (Index, Judex,Vindex)

Suara hati turut beraksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (Roma 2:15). Dalam Perjanjian Baru, untuk suara hati adalah “suneidesis” (Roma 2:15), dalam bahasa Latin “conscientia”. Suneidesis artinya: setahu, dengan diketahui oleh. Dalam Perjanjian Lama, suara hati yakni “leb”. Dalam 1 Raj 2:44, raja Salomo berkata kepada Simei, bahwa hati Simei pun mengetahui (bersama-sama mengetahui) segala kejahatan yang diperbuatnya kepada Daud.

Bahasa Indonesia mengenal kata lain dari suara hati. Kata itu antara lain adalah : bisikan hati, kata hati, rasa hati, suara batin, keinsafan batin, hati kecil. Perbendaharaan kata tersebut mengungkapkan bahwa di dalam manusia terdapat suatu instansi yang lebih dalam, suatu “hati kecil”, yang mengamat-amati dan mempertimbangkan kelakuan kita.

Suara hati adalah suara desakan, yang terdapat dalam batin tiap-tiap manusia, untuk menimbang-nimbang kelakukannya. Ia menuduh kita. Ia menyatakan pendapatnya apabila salah perbuatan kita. Suara hati terkadang mengadili kita tanpa menghiraukan, apa kita setuju atau tidak.

Di dalam Alkitab, reaksi-reaksi suara hati ini kita jumpai dengan tenang pada tokoh-tokoh sepeerti Kain, Saul dan Yudas Iskariot. Mereka hanya mendengarkan suara hati dan tidak mau mendengarkan suara Allah, Pengampun dan Penyayang.

Suara hati bukanlah suara Allah.  Tetapi suara hati tidak ada, bila Allah tidak ada. Allah berfirman sebagai pencipta dan pembuat undang-undang kepada sugala bangsa. Ia mengigatkan kita, bahwa kita dijadikan menurut gambar-Nya dan Ia mengigatkan kita, bahwa kehendakNya seharusnya menjadi hukum nagi hidup kita.

Manusia menindas suara Allah ini dengan kelaliman (Rm 1:18). Suara hati menjadi bukti bahwa manusia tidak dapat lepas dari Allah. Suara hati menjadi suatu tanda yang mengigatkan kita kepada gamabr Allah yang telah rusak dan menjadi gejala pencederaan antara manusia yang menurut yang seharusnya dan manusia menurut yang sebenarnya. Mau tidak mau, suara hati itu menjadi “saksi-utama yang melawan kemanusiaan kita yang jahat” (Noordmans).

Suara hati menjadi bukti yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa Allah memikul tanggungjawab kepada kita dan bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari hadirat Allah. Dalam suara hati, manusia berusaha menyelesaikan kesalahan sendiri, tanpa berlindung kepada Allah. Ia menjadi pembuat peraturan, hakim dan pembalas bagi dirinya sendiri dan dengan demikian berusaha menyelamatkan diri dari hukum Allah. Suara hati bukan suara Allah.

Suara hati mengigatkan kita akan adanya hukum yang tak dapat kita langgar tanpa penyesalan sekalipun tulisan hukum Allah itu telah rusak dalam suara hati dan tidak lagi ditaati sepenuhnya. Suara hati yang melarang sesuatu perbuatan kita, tidak selalu memperdengarkan suara Allah saja, tetapi mendengarkan pula suara bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa dan nenek moyang kita, bahkan suara Allah itu makin terdesak olehnya.

Suara hati sebagai hakim dengan pertimbangan dan keputusan bukanlah pertimbangan dan keputusan Allah. Pertimbangan dan keputusan suara hati itu sendiri ada berada di bawah pengadilan Allah. Laporan yang disusun oleh suara hati tentang perbuatan-perbuatan kita yang salah, tidak langsung oleh Allah melainkan oleh diri kita sendiri.

Suara hati sebagai pembalas (yang menjatuhkan hukuman) amatlah berbahaya. Suara hati tidak mendorong kita kepada anugerah Allah tetapi kepada ketakutan. Suara hati menbangkitkan kita, agar kita menyembuhkan penyakit kegelisahan batin kepada obat-obat pilihan kita sendiri. Etika Kristen tidak dapat mencari bahan dari pertimbangan suara hati.

 Bila suara hati kita gelisah, sehingga akhirnya takluk kepada Pembuat Hukum, Hakim dan Penolong tertinggi, yakni TUHAN ALLAH, Yesus Kristus. Dalam kekristenan kita dibenarkan oleh iman (justificatio sola fide).

__________

Sumber :

Dr. Nazarius Rumpak…, Pendidikan Agama Kristen Protestan, Jakarta :Karunika – UT (1986)

Share: hal praktis
  • Facebook
  • Tumblr
  • Twitter
  • Google Buzz
  • Orkut
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • email
  • Ping.fm
  • Print
  • RSS
  • Yahoo! Buzz

Tags:

Post Author

This post was written by suhartanatanael@gmail.com who has written 202 posts on Kegiatan Kristiani.

2 Responses “Suara Hati”

  1. Travel Offers April 3, 2011 2:59 am #

    Hi I love your comment and it was so fabulous and I am definetly going to save it. One thing to say the Superb analysis you have done is greatly remarkable.No one goes that extra mile these days? Bravo :) Just another suggestion you caninstall a Translator for your Worldwide Audience .

  2. Thumbprint Cookie April 13, 2011 7:00 am #

    The most difficult thing is to find a blog with unique and fresh content but your posts are not alike. Bravo.

Leave a Reply