Umur Panjang Untuk Apa?

Sutarno baru memasuki usia pensiun. Lima puluh sembilan tahun. Dia juga barusan mendapatkan “dokter keluarga” yang mengurus kesehatan seluruh keluarganya. Pada kunjungan pertama, dokter memintanya melakukan berbagai tes laboratorium. Pada kunjungan kedua, sang dokter berkata sambil tersenyum, “Dari hasil lab dapat saya simpulkan bahwa kondisi bapak lumayan sehat untuk orang seumur bapak.”

Sedikit kaget mendengar kata “lumayan”, Sutarno segera bertanya kepada dokter, “Dok, menurut dokter apakah saya dapat hidup hingga usia 90 tahun?” “Apakah bapak merokok dan minum bir?”, kata si dokter bertanya. “O tidak”, jawab Sutarno. “Saya tidak pernah merokok dan minum alkohol”, katanya dengan mantab. “Apakah bapak suka makan daging sapi, lobster, kepiting, dan goreng-gorengan?”, tanya dokter lagi masih senyum. “Tidak. Semua itu kan makanan yang tidak sehat?”, jawab Sutarno penuh keyakinan. “Apakah bapak menghabiskan banyak waktu di bawah matahari, misalnya main golf atau berjemur di pantai?” tanya dokter ibarat seorang penyelidik. “Juga tidak!”, jawab Sutarno tergelak renyah. “Apakah bapak suka berjudi di Casino, berdansa club malam, dan mengendarai mobil balap?” tanya dokter lagi ikut tertawa gelak.” “Engak dokter. Amit-amit”, jawab Sutarno terbahak-bahak. Dokter terdiam sejenak. Lalu dia melihat wajah Sutarno dalam-dalam beberapa saat. Kemudian dengan tersenyum dia berkata perlahan-lahan, “Kalau begitu, untuk apa bapak ingin hidup hingga 90 tahun?”

Saudara, ini hanyalah sebuah ilustrasi humor yang melukiskan keinginan manusia untuk mencapai usia yang panjang dengan tujuan agar bisa bersenang-senang secara duniawi. Sang dokter memiliki konsep demikian, bukan? Umur panjang untuk memuaskan nafsu kedagingan yang sementara ini. Benar-benar duniawi. Saya yakin semua orang ingin umur panjang, tentunya juga awet muda dan sehat walafiat. Namun, sebagai orang Kristen, kita perlu bertanya diri, “Panjang umur untuk apa?

Sebagai seorang yang sudah ditebus Kristus seharusnya tujuan hidup kita berubah, bukan? memang benar, sebagai manusia kita memiliki aspek jasmani dan perlu dipenuhi kebutuhannya. Namun, manusia juga memiliki aspek rohani, bukan? Dan aspek rohani ini sebenarnya jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek jasmani. Karena yang jasmani sementara sifatnya. Yang rohani itu kekal sifatnya.

Sebab itu Rasul Paulus berkata, “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberikan buah” (Filipi 1:22). Inilah tujuan hidup orang Kristen yang sejati. Memberikan buah bagi Kristus. Bagi Kerajaan Allah. Buah yang bernilai kekal. Buah yang bisa kita bawa serta ketika kita meninggalkan dunia. Perlu dicatat bahwa semua buah yang bersifat duniawi, materi, dan jasmani akan kita tinggalkan kelak. Baca juga Matius 6:1-21. Sedangkan buah yang bersifat rohani, yang kita lakukan demi Kerajaan Allah dan demi Kebenaran-Nya, akan tinggal tetap selama-lamanya sehingga kita pulang kembali ke Bapa di sorga. Marilah kita bertanya diri, “Kalau masih hidup di dunia ini, kalau ada umur panjang, untuk apa tujuannya?”

Kiranya tujuan hidup Saudara sungguh jelas dan fokus. Bukan hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup. Bukan hidup untuk diri sendiri, bukan pula hanya untuk keluarga, untuk gelar, untuk harta benda, untuk dunia, apalagi untuk si jahat. Oh, amit-amit. Jangan sampai hidup itu menjadi sia-sia dan membawa penyesalan. Hidup untuk Kristus. Itulah yang benar dan tepat. Ya, untuk berbuah bagi Kerajaan-Nya.

Sumber : Eddy Fances, Teropong Kehidupan.

Share: hal praktis
  • Facebook
  • Tumblr
  • Twitter
  • Google Buzz
  • Orkut
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • email
  • Ping.fm
  • Print
  • RSS
  • Yahoo! Buzz

Tags: , , ,

Post Author

This post was written by suhartanatanael@gmail.com who has written 202 posts on Kegiatan Kristiani.

No comments yet.

Leave a Reply